Bagaimana WALHI Sulsel Gagas Konferensi Internasional Soal Mineral Kritis dan Energi?

Gempuran ekstraksi bahan tambang secara masif demi memenuhi ambisi transisi energi global telah memicu krisis ekologis dan kemanusiaan baru di wilayah pesisir serta pulau-pulau kecil Indonesia. Merespons ancaman ekspansi industri nikel dan bahan baku baterai tersebut, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Sulawesi Selatan mengambil inisiatif global dengan menggelar forum diskusi tingkat dunia. Sebagaimana yang diberitakan oleh portal WALHI Payakumbuh, penyelenggaraan konferensi internasional terkait dampak ekstraksi mineral kritis dan transisi energi ini bertujuan untuk menyatukan suara para peneliti, aktivis, dan masyarakat terdampak dari berbagai negara. Forum ini digagas untuk membongkar narasi hijau palsu (greenwashing) yang mengorbankan ruang hidup masyarakat lokal demi industri energi bersih di negara-negara maju.

Latar belakang dimulainya forum internasional ini didasari oleh kehancuran ekosistem pesisir, pencemaran laut oleh limbah slag nikel, serta penggusuran pemukiman nelayan yang terjadi secara masif di kawasan Sulawesi dan Maluku. Atas nama percepatan ekosistem kendaraan listrik dunia, proses penambangan dan peleburan nikel dilakukan dengan mengabaikan standar hak asasi manusia serta merusak ruang tangkap nelayan tradisional. Ekstraksi mineral kritis ini dinilai hanya memindahkan emisi dan kerusakan lingkungan dari negara konsumen ke negara produsen.

Konferensi internasional ini menghadirkan berbagai narasumber lintas negara untuk membedah rantai pasok global mineral kritis serta dampaknya terhadap perubahan iklim. Para peserta merumuskan rekomendasi bersama yang mendesak korporasi multinasional dan pemerintah untuk menerapkan standar perlindungan lingkungan yang ketat, menghentikan penggunaan energi fosil batubara pada smelter nikel, serta menghormati hak masyarakat lokal untuk menolak tambang di wilayah mereka.

Inisiatif advokasi tingkat internasional yang dipelopori dari kawasan timur Indonesia ini mendapat dukungan luas dari berbagai jaringan kepengurusan daerah. Melalui riset bersama yang disosialisasikan oleh [WALHI Solok](https://walhisolok.org/], konsolidasi data kerusakan pesisir akibat tambang dapat disajikan secara komprehensif di panggung diplomasi global. Sinergi ini memperkuat desakan internasional agar industri otomotif dunia tidak menggunakan nikel yang berasal dari perusakan lingkungan dan pelanggaran HAM di Indonesia.

Hasil dari pelaksanaan konferensi internasional ini sukses menarik perhatian lembaga keuangan global dan konsumen dunia untuk lebih kritis terhadap asal-usul bahan baku baterai kendaraan listrik. Pengetahuan yang terbagikan dalam forum ini juga memberikan amunisi baru bagi masyarakat lokal dalam melakukan penolakan atas rencana ekspansi tambang nikel baru di wilayah pulau-pulau kecil.

Kesimpulannya, gagasan WALHI Sulsel menggelar konferensi internasional soal mineral kritis adalah langkah diplomasi rakyat yang sangat berani dan tepat sasaran. Transisi energi tidak boleh dibangun di atas penderitaan warga dan kehancuran ekosistem laut Indonesia. Informasi terperinci mengenai draf Deklarasi Makassar, hasil riset mineral kritis, serta rilis berita lingkungan dapat Anda pelajari di portal resmi WALHI Palembang. Mari kita kawal transisi energi yang adil, bersih, dan berkeadilan ekologis.

Добавить комментарий

Ваш адрес email не будет опубликован. Обязательные поля помечены *